Persona

Pengembangan Destinasi 10 Bali Baru Membutuhkan Investasi SDM

Kamis, 05 September 2019 | 11:06 WITA

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Pemerintah diharapkan tidak hanya berpatokan pada investasi modal uang dalam pengembangan destinasi 10 Bali baru. Mengingat pengembangan destinasi 10 Bali baru juga sangat membutuhkan investasi sumber daya manusia (SDM). Harapan tersebut disampaikan akademisi dari Prodi Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, Dr. Nyoman Sukma Arida saat dikonfirmasi di Denpasar pada Kamis (5/9).

Pilihan Redaksi

  • Pemeriksaan Reguler dan Pembinaan, 28 Hari Inspektorat Bali Sambangi Jembrana
  • Pemerintah Naikkan Iuran BPJS Kesehatan 100% Per 1 Januari 2020
  • Pencarian Nelayan Hilang Hingga Hari ke-7, Basarnas Hentikan Pencarian
  • “Memang investasi tidak selalu berupa modal uang, tetapi juga ada investasi lainnya, bahkan investasi lainnya itu yang sebenarnya lebih mendukung pengembangan destinasi pariwisata, investasi budaya, investasi sosial, hanya kadang kala dalam proses pembangunan kita, investasi modal lainnya itu sering tidak diperhitungkan dengan semestinya, jangan sampai terjadi nanti pengembangan SDM misalnya hanya sekadarnya saja” papar Sukma Arida.
    Investasi modal dalam bentuk uang memang selama ini lebih mendominasi dalam pengembangan destinasi pariwisata, terutama dalam pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata. Namun investasi tersebut juga harus tetap memperhatikan aspek lingkungan.
    “Karena dalam pembangunan ini pemerintah mengundang peran serta banyak investor untuk membangun sarana infrastruktur yang ada di destinasi, pembangunan ini akan merubah bentuk bentang lahan dan lingkungan dan kalau kemudian dilakukan tanpa kajian dampak lingkungan, kemungkinan akan merusak fungsi ekosistem yang ada disana” jelas Sukma Arida.
    Penulis Buku Dinamika Ekowisata Tri Ning Tri di Bali ini menekankan yang juga penting diperhatikan dalam pengembangan destinasi 10 Bali Baru adalah pelibatan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Masyarakat lokal tetap harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam upaya pemberdayaan SDM.
    Praktisi pariwisata Bali Jeffrey Wibisono mengaku belum melihat adanya penyiapan SDM di destinasi 10 Bali baru. Padahal Presiden Joko Widodo telah menekankan pentingnya kesiapan SDM yang berkualitas.
    “Dilapangan saya lihat gencarnya belum sampai kesana,  saat ini saya pikir masih 50 : 50, kepentingan promosi di masing-masing daerah masih banyak dari Kementerian Pariwisata secara digital” ungkap Jeffrey.
    Selain penguatan SDM juga diperlukan penguatan sosial-budaya masyarakat agar siap menerima wisatawan. Hal yang lebih penting adalah upaya melibatkan masyarakat agar tidak menjadi penonton semata.
    “Menerima touris dengan budaya yang berbeda-beda, jadi lebih pada social culture yang harus dipersiapkan di masyarakatnya juga dan mestinya mereka juga bisa dilibatkan, bukan hanya menjadi penonton pinggiran” jelas pria yang kini juga aktif menulis buku tentang pariwisata.
    Ketua Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Bali Sruti Dr. Luh Riniti Rahayu menilai pengembangan destinasi 10 Bali baru masih berkutat pada masalah infrastruktur berupa aksesibilitas dan akomodasi penunjang pengembangan destinasi wisata. Sedangkan pengembangan SDM belum tersentuh, apalagi pengembangan SDM yang mengedepankan kesetaraan gender.
    “Jangan sampai perempuan terlibat bukan sebagai subyek, malah menjadi obyek , jadi semua kebijakan dalam program ini harus memperhatikan permasalahan kesetaraan gender” tegas Riniti yang merupakan mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bali.
    Aktivis perempuan yang juga aktif dalam forum kerukunan umat beragama di Bali ini  menegaskan pengembangan SDM, terutama SDM perempuan menjadi penting karena apabila kaum perempuan tidak memiliki kemampuan yang cukup hanya akan menempatkan perempuan sebagai pekerja kasar. Bahkan tidak jarang kaum perempuan tersebut menjadi obyek pelecehan seksual
    “Seringkali para wisatawan juga melecehkan para penduduk lokal sehingga dianggap rendah, sehingga dengan demikian pelecehan atau komersialisasi perempuan dijadikan PSK atau memang diperlakukan dengan tidak baik, itu akan terjadi pada kaum perempuan” jelas Riniti.
    Wakil Ketua Ubud Hotel Association Wayan Parka berharap pembangunan destinasi 10 Bali baru juga diikuti dengan pembangunan lembaga pendidikan di daerah tersebut. Pembangunan lembaga pendidikan pariwisata menjadi penting dalam upaya mempersiapkan SDM yang handal.
    “Mungkin dari sisi edukasi pun pemerintah mulai bisa membangun SMK, mulai membangun SMA pariwisata, maupun sebisa mungkan membangun universitas yang dimana mereka bisa lebih terdidik lagi tentang dunia perhotelan dan pariwisata” ungkap pria yang kini menjadi Resort Manager The Sankara, Ubud
    Selaku pelaku pariwisata di Bali Parka mengaku sangat mendukung pengembangan destinasi 10 Bali baru agar tercipta pemerataan pembangunan pariwisata di Indonesia. Kehadiran destinasi baru ini juga dipastikan tidak akan menjadikan Bali kalah bersaing, karena setiap destinasi mempunyai keunikan tersendiri.
    “karena setiap daerah bagi saya sendiri punya keunikan masing-masing dan pasti juga berbeda dengan tempat lain, Bali bisa terkenal karena budaya, tradisi dan adat-istiadat yang mengikat disini” kata Parka.
    Pengembangan destinasi 10 Bali baru tentu memiliki banyak tantangan. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah membangun citra pariwisata, seperti yang disampaikan Dr. Sukma Arida yang juga merupakan pendiri Godevi.
    “Dalam menciptakan branding ini memerlukan usaha ya

    Pilihan Redaksi

  • Titik Api Tak Teramati Lagi, Luas Hutan Terbakar Capai 20 Hektar
  • Kebakaran Lagi, Wilayah TPA Sampah Mandung yang Terbakar Meluas Jadi 20 Hektar
  • Ngaturang Pekelem, Pemancing yang Terseret Ombak Masih Belum Ditemukan
  • ng cukup keras yang perlu dilakukan, kalau dibandingkan dengan Bali sebagai destinasi yang sudah establish, tentu 10 Bali baru ini harus berusaha keras menciptakan apa brand mereka” jelas Sukma Arida.
    Tantangan berikutnya menurut Sukma adalah membangun aksesibilitas di destinasi 10 Bali baru. Salah satunya yaitu mempersiapkan akses layanan penerbangan nasional atau internasional. Menurut Sukma, cara pendekatan pengembangan destinasi 10 Bali baru dapat mengadopsi pengembangan pariwisata Bali yang mengedepankan kekuatan masyarakat.
    Sebelumnya pemerintah telah menetapkan destinasi 10 Bali baru yang mulai dikembangkan tahun ini. Sepuluh Bali Baru tersebut adalah Danau Toba di Sumatera Utara; Tanjung Kelayang di Kepulauan Bangka Belitung; Tanjung Lesung di Banten; Kepulauan Seribu di Jakarta; Borobudur di Jawa Tengah; Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur; Mandalika di Nusa Tenggara Barat; Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur; Wakatobi di Sulawesi Tenggara; dan Morotai di Maluku Utara.[bbn/muliarta]

    Penulis : I Nengah Muliarta

    Editor : I Nengah Muliarta


    TAGS : Destinasi 10 Bali Baru



    About bali Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending About Bali

    Berita Bali TV