About Bali

Pemakaian Saput Poleng Pada Pohon Besar Sebagai Bentuk Pelestarian Lingkungan Hidup

Rabu, 31 Oktober 2018 | 06:00 WITA

hindu.web.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Pemakaian saput poleng pada pohon-pohon besar di Bali merupakan bentuk upaya pelestarian lingkungan hidup yang dilakukan masyarakat Bali.

Pilihan Redaksi

  • Bendesa Adat Tonja Mengaku Jadi Pecandu Shabu Sejak 6 Bulan Lalu
  • Periksa Kondisi Kejiwaan, Terduga Penculik Anak di Kubu Digiring ke RSJ Bangli
  • Kebakaran Hutan Akibatkan Asap Membubung Tinggi di Lereng Gunung Agung
  • Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Ideologi Pelestarian Lingkungan Hidup Dibalik Pemakaian Saput Poleng Pada Pohon Besar di Bali” yang ditulis oleh I Ketut Suda dari Fakultas Ilmu Agama, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar yang dipublikasikan dalam Jurnal Bumi Lestari, Volume 10, Nomor 2 Tahun 2010.
    Ketut Suda menuliskan upaya masyarakat Bali melilitkan saput poleng pada pohon besar bukan sekedar perbuatan iseng yang terjebak pada utopia, melainkan memiliki latar belakang ideologis.
    Artinya dibalik budaya melilitkan saput poleng pada pohon besar yang merupakan bagian dari sistem nilai masyarakat Bali mengandung pula nilai-nilai kearifan ekologis.
    Ideologi yang terkandung disini yaitu konsep Tri Hita Karana. Harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diaktualisasikan dalam bentuk pemujaan yang disebut parahyangan.
    Demikian pula dalam kehidupan sosial masyarakat Hindu Bali tidak dapat dilepaskan dari hubungan dengan manusia lainnya yang disebut dengan pawongan. Terakhir adalah harmonisasi hubungan antara manusia dengan lingkunganya yang disebut palemahan.

    Pilihan Redaksi

  • Nelayan di Karangasem Terima Bantuan 1.081 Unit Mesin Bertenaga Gas LPG
  • Radio Academy Tingkatkan Peran dan Kualitas Penyiar Radio
  • Isu Bali Dijual Murah: Harus Ada Standarisasi Harga Pelaku Wisata Bahari
  • "margin-bottom: 15px;"> Berdasarkan konsepsi Tri Hita Karana maka upaya melilitkan saput poleng pada pohon besar yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali secara filosofi mengandung cara pandang pengelolaan lingkungan dengan konsep antroposentris, biosentris dan ekosentris.
    Konsep antroposentrisme berarti bahwa manusia dilihat sebagai pusat alam semesta. Manusia sebagai mahluk tertinggi di muka bumi ini, sedangkan alam semesta dianggap sebagai sarana pelengkap dan alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
    Menurut Suda, sebenarnya masyarakat Hindu di Bali memiliki banyak nilai kearifan ekologis untuk pelestarian lingkungan. Hanya saja dalam proses sosialisasinya belum banyak yang dilakukan melalui berbagai diskursus yang dapat dipahami masyarakat secara ilmiah.
    Pada kenyataanya banyak nilai kearifan lokal dan kearifan ekologis di Bali hanya dipahami masyarakat sebatas tradisi mule keto (memang begitu). [bbn/ Jurnal Bumi Lestari/mul]

    Penulis : I Nengah Muliarta

    Editor : I Nengah Muliarta


    TAGS : Saput Poleng Pohon Besar Bentuk Pelestarian Lingkungan Hidup



    About bali Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending About Bali

    Berita Bali TV